Siapakah sang Idola itu?

1.cover

Naluri untuk mengidolakan sesuatu, seseorang, atau sekelompok orang  memang wajar pada diri manusia, disadari atau tidak disadarinya. Misalnya saja, Ukhti mengatakan tidak mengidolakan seseorang atau sekelompok orang itu, namun sebenarnya mengetahui seluruh kehidupan dan detail biografinya, bahkan memasang fotonya dimanapun, ini kasusnya sama saja loh. Apabila Ukhti merasa takjub dengan keberadaannya,  memiliki ‘rasa’ saat melihatnya, kekaguman berlebih, ini juga sama saja.

Mengagumi seseorang atau sekelompok orang erat kaitannya dengan mengeksplorasi fisik dan materi fana, mengeksploitasi hal yang ada pada diri mereka yang sering disebut dengan istilah “keren”,  akhirnya tanpa sadar mengikat diri kita sendiri dengan dunia mereka.

Mayoritas para idola mengandalkan wajah yang “cool”, tanpa sadar kita menilai orang tidaklah dari akhlak sebagaimana perintah Allah, tapi dari fisik. Ukhti, seperti yang telah kita ketahui, setiap jiwa pasti akan merasakan mati, setiap yang bernyawa pasti akan rusak dimakan waktu, termasuk kulit indah dan wajah tampan. Saat di bawah tanah ia adalah konsumsi belatung, tak ada lagi yang bisa dibanggakan dari “keren” dan “cool” pada fisiknya. Kemudian lebih jauh lagi kita lihat apakah ada amal shaleh yang mereka perbuat? Apalagi mereka yang memiliki perbedaan keyakinan dengan kita.Tahukah kita, bila kita mengidolakan seseorang atau sekelompok orang,  maka baik secara sadar maupun tidak kita akan selalu berusaha menyesuaikan diri kita dengan orang yang kita kagumi. Menirunya dalam segala hal, baik perilaku, cara berpakaian, bahkan cara berpikir seolah kita bagian darinya. Atau minimal kita memaksa diri mengetahui setiap hal yang ada padanya.

Ukhti, sebelumnya coba perhatikan ayat Allah yang berikut ini :  “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum.. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar” (QS 63:4) .Yang mana maksud dari ayat tersebut adalah perkataan dan fisiknya terlihat mengagumkan namun amal dan akalnya adalah kosong.

Ada suatu percakapan  antara Anas bin Malik dengan Rasulullah SAW yang dapat membantu kita dalam memahami mana yang sebaiknya kita jadikan sebagai seorang idola atau panutan. Check it out…

Saat Anas bin Malik ditanya Rasulullah, “Apa yang telah kamu siapkan untuk hari kiamat ?”

Anas menjawab, “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai.”

Anas pun berucap , “Kalau begitu, aku pun mencintai Abu Bakar dan Umar, berharap bersama mereka walau amalku belum seperti mereka.”

Nah sahabat UKHTI, ternyata  kecintaan dan kekaguman akan seseorang boleh-boleh saja tapi alangkah baiknya jika kita lebih mengagumi seseorang yang bisa membawa kita dalam jalan kebenaran.  Maka dari itu, cukuplah Rasulullah SAW, Khulafaurrasyidin, sahabat dan Muslim tangguh lainnya yang menjadi idola dan yang kita kagumi.

Seperti firman Allah : “Sesungguhnya telah ada pada(diri) Rosulullah itu suri teladan yang baik bagimu(yaitu) bagi orang yang mengharap(rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS, Al Ahzab:33:21)

Subhanallah, semoga kecintaan pada orang Mukmin, kagum akan ibadah dan amal shaleh mereka selalu menghiasi akal-pikiran kita. Amiiin

sumber: http://catatandakwah.wordpress.com

KHZ ^_^

About UKHTI STIS

Salah satu divisi ROHIS, Sekolah Tinggi Ilmu Statistik

Posted on 24 May 2013, in Edisi Mei 2013 and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: