Kado untuk Delima (3-end)

Di kamar mandi saat Delima bercerita tentang seorang pria yang menamparnya.

“Ya Del, itu kado terindah dari Allah untukmu,”  kataku pada Delima yang air matanya telah berhenti.

“Maksudmu Din?”

“Kamu tahu, tidak semua orang mendapatkan hati yang tulus, kata-kata yang bijak, sikap yang selalu terjaga, dan ketaqwaan yang luar biasa pada Allah, seperti apa yang kamu punya saat ini Del.”

“Tapi Din, aku merasa ada yang salah dalam caraku mengingatkan. Tapi aku masih bingung”, aku melihat ada guratan rasa bersalah pada wajah putihnya, yang karena hal itu membuatku ingin sedikit mengingatkannya

“Maaf Del, bukannya aku ingin ikut campur. Tapi, ada yang mungkin sedikit mendesak untuk aku katakan. Aku tahu niat awalmu baik Del, tapi ini masalah citra dirimu dan nama baik agamamu.”

“Apa itu Din? Katakan saja, kamu harus menegurku jika aku salah Din,” katanya penuh harap.

“Nah mungkin itulah masalahmu selama ini Del, prinsipmu untuk selalu menegur keras setiap kesalahan orang itu membuatmu semakin dijauhi banyak orang,” aku berharap tak ada yang salah dalam kata-kataku kali ini. “Kamu harus tetap menjaga kado terindah dari Allah itu Delima, karena jika tidak, mungkin Allah akan mengambil kado itu lagi.”

“A.. aku.. tidak mengerti Din, apa yang salah dengan semua itu?”

“Percayalah Del, orang-orang yang kamu tegur dengan keras itu sebenarnya tak pernah membencimu. Mungkin mereka hanya merasa sedih, ketika nama baiknya kamu rusak dalam waktu singkat di depan banyak orang. Kamu tahu Del, kado itu akan semakin banyak mengalir padamu saat kamu mampu mengubah mereka dengan cara-cara Rasulullah,” aku memegang tangan Delima yang mulai menangis kembali.

“Dina, subhanallah. Kata-katamu begitu indah. Aku tidak pernah mampu mengeluarkan kata-kata seperti itu pada orang-orang yang aku tegur. Ya kamu benar. Berbicara berdua dari hati ke hati seperti sekarang membuatku lebih mampu mengevaluasi diri sendiri dengan pikiran jernih. Astagfirullah, tanpa sadar aku telah menyakiti hati banyak orang.”

“Haha, aku tak pernah berani menasehati orang selama ini Del, kamu dan aku bagaikan berputar 180o. Masih banyak waktu untuk memperbaiki semuanya Delima. Sekarang tersenyum deh,” aku ingin memperbaiki suasana ini.

“Kamu tahu Din, Allah itu Maha Pemurah, dan Dia telah memberikan kado-Nya juga padamu. Mulai sekarang, kamu harus menasehatiku jika melakukan kesalahan lagi. Dan membantuku untuk ikut berdakwah di jalan Allah, bagaimana?”

Aku tak pernah berpikir akan menjadi akitivis dakwah seperti Delima, terlebih lagi kado terindah itu. Sungguh aku tak pernah sedikit pun merasa begitu percaya diri untuk yakin bahwa aku memilikinya, tapi aku mau mencoba, “InsyaAllah Del, di bawah bimbinganmu,” dan senyum Delima pun terlukis indah.

Kami pun keluar dari kamar mandi itu. Aku mendapatkan diriku yang mulai percaya diri untuk berdakwah, dan Delima terlihat terlalu bahagia mengetahui apa yang salah dari dirinya selama ini. Kami pun bersahabat, menyelesaikan masalah Rio dengan mudah, mulai menawarkan jilbab-jilbab lucu pada Silvi yang belum berhijab, dan saling tegur keras hanya antara kami berdua. Aku berharap semoga Allah selalu menurunkan kado-kado terindah-Nya untuk Delima. Dan tidak ketinggalan untukku, untuk orang-orang yang mau berdakwah dengan ikhlas, dan tentunya untuk kalian para pembaca yang cantik-cantik. InsyaAllah😀

The End

(NAP☺)

About UKHTI STIS

Salah satu divisi ROHIS, Sekolah Tinggi Ilmu Statistik

Posted on 24 May 2013, in Edisi Mei 2013 and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: