Kado untuk Delima (2)

Semakin lama, semakin banyak teman sadar akan Delima yang sedang menangis. Mungkin karena aku lebih dahulu menghampiri Delima, mereka bertanya padaku.

“Din, Delima kenapa?”

“Aku juga kurang tahu. Menurut kalian kenapa?”

Dalam hati aku berpikir bahwa bukankah ini juga karena olok-olok kalian padanya. Ah, entahlah. Aku tidak begitu peduli pada pikiran mereka, yang terpenting sekarang bagaimana caranya menghentikan tangis Delima. Atau setidaknya aku ingin membawanya keluar dari kumpulan anak-anak lain yang semakin ramai.

Yang tak kusangka, tiba-tiba Delima berdiri. Delima menarikku keluar dari kerumunan itu dengan tangan kanannya dan tangan sebelah lagi menutupi wajahnya. Tidak lain tidak bukan, dia menarikku ke toilet. Aku sempat berkata pada teman-teman yang lain, “Jangan ikuti kami.”

“Delima, kamu kenapa?”

Aku langsung bertanya saat ia melepaskan tanganku. Suara tangisannya semakin kuat saat tak ada lagi siapa pun kecuali aku disini. Aku mulai tidak tahan melihatnya.

“Ayolah Delima, ceritakan saja semuanya. Berbagi beban sedikit denganku akan membuat perasaanmu lebih lega. Kamu bisa mempercayaiku.”

Suara tangisannya perlahan-lahan merendah, ia berkata dengan terbata-bata, “A.. a.. aku ta.. kut Di.. Din…”

“Apa yang membuatmu takut? Bukannya tidak ada makhluk lain yang kamu takuti kecuali Allah, Del? Istighfar Delima, ayoo…”

Akhirnya tangis Delima berhenti dengan sempurna  setelah beristighfar. Sungguh istighfar begitu istimewanya hingga mampu menentramkan hati siapa yang melafazkan.

“Mereka benar-benar ingin membalas dendam padaku Din, mereka serius. A.. aku tak tahu apa salahku.” Seorang gadis yang biasanya sangat tegar ini benar-benar sedang ketakutan. Ini memang masalah serius.

“Siapa Del? Bagaimana bisa?” Aku sudah sangat penasaran.

“Aku hanya berkata padanya bahwa apa yang dia lakukan itu salah. Temanku itu bukanlah wanita gampangan yang mudah saja dia permainkan, dekati disaat butuh dan jauhi disaat tidak berguna. Pacaran saja haram, apalagi melakukan hal seperti ini,” aku melihat guratan emosi di wajah polos Delima, ia bercerita dengan suara bergetar. Dan dari apa yang dia katakan tadi aku tahu bahwa itu pasti Rio, laki-laki playboy yang paling terkenal di kampus. Orang yang paling ditakuti di kampus karena manusia satu ini bisa melakukan apa saja bersama genknya.

“Kamu berurusan dengan Rio? Astaghfirullah. Delima, itu masalah temanmu. Setidaknya kamu tak perlu sampai senekat itu, Del. Apa yang kamu lakukan pada Rio?”

“Aku tak tahan melihat temanku sehancur itu sekarang Din. Aku hanya mencoba menegurnya, tak kusadari bahwa banyak pasang mata yang menonton. Dia sangat marah Din, dia menamparku.”

Aku tahu, Delima sungguh luar biasa.

“Kamu tahu Delima, itu kado yang indah. Kado yang sangat indah dari Allah untukmu. Aku saja merasa belum mendapatkannya. Kamu ukhti yang beruntung Del.”

“Apa maksudmu Din? Kado, kado apa? Rasanya aku tak kuat lagi…”

(to be continued…)

About UKHTI STIS

Salah satu divisi ROHIS, Sekolah Tinggi Ilmu Statistik

Posted on 15 April 2013, in Edisi April 2013 and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: