Kado untuk Delima (1)

Kampus baru, lembaran baru, teman-teman baru, dan semangat baru… Di mataku, semua mahasiswa terlihat begitu bahagia, kami bertukar nomor handphone sambil sesekali tertawa. Rasanya tak ada yang kurang. Namun wanita itu, salah satu di antara kami, sejak tadi terlihat menyendiri dengan buku bacaan di tangannya.

Rasa penasaranku muncul, kupikir ini bukan waktu yang tepat untuk sekedar menyendiri dan membaca buku. Aku memberanikan diri untuk menyapanya.

“Hai, assalamu’alaykum.. Boleh kenalan gak? Nama kamu siapa?”

“Wa’alaykumsalam warohmatullahi wabarakatuh. Delima,” dia menjawab singkat sambil menjabat tanganku sesaat.

“Oh, Delima. Nama yang bagus. Aku Dina, kamu kok menyendiri? Ayo gabung dong,” aku mengajaknya untuk lebih dekat dengan perkumpulan kami. Akhirnya ia menutup bukunya itu, mungkin memang harus ada orang yang mengajaknya. Delima memang terlihat sedikit berbeda dengan yang lain, kemeja putih longgar dan kerudung putih besar pra PDA yang terjulur sampai menutupi setengah tubuh kurusnya itu mungkin yang membuatnya berbeda.

Saat berkenalan, Ayu, satu teman wanitaku, berjabat tangan dengan seorang teman laki-laki.Semua orang menganggapnya biasa saja saat itu, tapi Delima refleks menarik tangan Ayu sambil berkata, “Astaghfirullah.. Lepaskan jabatan tangan kalian, itu haram Ayu. Kamu tidak patut melakukannya.”

“Ih, Delima kemu kenapa sih begitu banget? Biasa aja kali. Aku juga gak macem-macem kan cuma salaman doang. Lebay banget sih kamu.” Ayu berkata ketus sambil meninggalkan Delima. Entah sihir apa yang sedang bekerja, dengan sekejap suasana berubah menjadi canggung dan teman-teman yang lain pun ikut memisahkan diri.

Aku bingung apa yang sebaiknya aku lakukan. Di satu sisi apa yang Delima sampaikan itu benar, tapi di sisi lain aku berpikir bahwa caranya kurang tepat. Aku takut dia malah jadi dijauhi teman-teman yang lain karena itu.

Waktu berlalu, kuliah kami sudah berjalan empat bulan. Delima masih tetap seorang Delima, yang selalu memegang prinsip bahwa maksiat apapun yang ada di depan matanya harus ia cegah secepat mungkin tanpa rasa takut. Parahnya, perkiraanku benar. Karena hal ini anak-anak yang lain mulai enggan berteman dengannya. Aku kasihan melihat Delima. Sungguh, sebenarnya dia anak yang manis dan sangat baik hati.

Suat pagi di kelas saat menunggu dosen, Delima datang dengan muka suram. Ia langsung duduk, menenggalamkan wajahnya di atas meja yang berpangku tangan. Aku menghampirinya.

“Delima, kamu kenapa?”

Dan memang benar, aku mendengar suara sesenggukan yang sangat pelan, Delima menangis. Ya Allah Yang Maha Tahu, ada apa dengan Delima? Apa ada seseorag yang tidak senang padanya lagi?

(to be continued…)

About UKHTI STIS

Salah satu divisi ROHIS, Sekolah Tinggi Ilmu Statistik

Posted on 1 April 2013, in Edisi Maret 2013 and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: