Menyambut sapaanNYA


 

Ukhti…

Inilah mulanya cinta

Terpaparkan wajah-wajah cahayamu

Dengan senyum simpul dan tangan terbuka

Lalu hatimu menyapa lewat sebaris kata

Assalamualaikum ukhti

Ana uhibukifillah

Sungguh, ibaratnya obat maka sapaan bisa menjadi obat paling mujarab. Ketika kita didera hati yang sumpek, pikiran mumet, kantong tipis dan perut meringis rasanya sekeliling kita seakan mendung. Bahkan tambah buruk saat bertemu dengan orang yang berwajah jutek bin sangar. Secara tak sadar terlontar kata “ Ih, kenapa sih nih orang”, lalu dilanjutkan dengan prasangka, “ Lagi dapet kali ya…atau nilainya jeblok…ah…aku tahu, pasti uang ID belum keluar” (baca: khusus anak STIS…^^V). Yang pasti fatal sekali akibatnya. Lain halnya kalau bertemu dengan wajah sumringah. Sudah cantik, manis, baik pula (yuk kita tunjuk diri sendiri J). Suasana hati yang buruk pun seketika bisa hilang, hati tenang, berat badan terasa berkurang he…he….

Ups, back to topic. Ukhtifillah, menyapa bukanlah sesuatu yang mahal dan sulit. Tabungan kita tidak akan berkurang kok dengan sekedar menyapa. Begitu pula saat kita menyambut sapaan. Oleh karena itulah kenapa saat seorang muslim mengucap salam maka diharuskan bagi muslim yang mendengarnya untuk menjawabnya. Karena didalam sapaan terdapat do’a maka kita sambut dengan do’a. Karena didalam sapaan terkandung cinta maka kita sambut dengan cinta dan sukacita. Subhanallah terbayangkah jika dengan saling menyapa hati terpaut menjadi sebuah keeratan secara tak kita sadari? Bukankah akan beda sekali suasana yang terasa saat kita memberikan senyum kepada seseorang lalu orang itu membalas kita dengan tatapan tajam, wajah cemberut dan kata bernada ketus? “ Males banget deh senyum buat orang kayak gitu” Nah lho…. Trus, bagaimana kalau kasusnya saat sapaan itu datang dari Allah, tentu saja bukan dalam bentuk salam dan kata-kata.

Marilah sejenak meluangkan waktu untuk bercermin dan perhatikanlah wajah kita dengan cermat. Hidung yang terposisikan dengan tepat, mata yang sempurna, tidak besar sebelah. Wajah yang sempurna dan lengkap. Disanalah Allah menyapa kita untuk selalu bersyukur. Mungkin beberapa belas tahun lalu wajah ini masih imut tanpa kerut, lalu waktu berjalan dan usia kita bertambah. Entah sudah berapa banyak ladang pahala yang kita panen selama rentang waktu itu. Ibadah yang telah kita sempurnakan atau malah semakin bertambah usia semakin enggan kita menegakkannya. Padahal semakin hari semakin sedikit jatah kita untuk ada di dunia.

Lalu terdengarlah adzan menyapa “ Ayo segera shalat! Sambut kemenangan!”, tapi ucapan apakah yang pertama mungkin sering kita lontarkan secara tak sadar. “  Oh cepat sekali. Bukannya adzan tadi baru terdengar. Bentar dulu deh”. Hati…sesaat aku tahu kau tak suka dengan sapaanNya. Terkadang muncul pula kata ‘lupa’ sekali-kali. “ Ah…aku lupa subuhku terlewat”. Dan kita pun melanjutkan hari seperti biasanya. Astagfirullah…sungguh diri ini pun masih sarat dengan khilaf. Padahal Allah senantiasa menyapa kita dengan sumringah dan memberikan kemuliaan bagi yang taat dan ber’amar ma’ruf nahi munkar.

Jika kita berjalan kepadaNya maka ia akan berlari kepadamu

Disinilah mulanya arti menyambut sapaan. Kita mau dan bertindak! Bukan hanya niat untuk mau. Ketika Allah menyapa kita untuk segera shalat. Hati berkata mau tapi badan tetap diam tak bergerak. Maka tak akan pernah terwujud shalat itu sampai kapanpun karena tak ada tindakan. Hanya di bibir saja.

Ukhtifillah…sesungguhnya menyambut sapaan berarti kita menyambut cinta yang diberikan. Hati yang terikat dengan cinta pasti akan selalu ikhlas dalam mengerjakan segala sesuatunya dalam kondisi dan situasi apapun. Karena cintalah pengikatnya. Berikanlah sedikit ruang di diri kita untuk menyambut setiap sapaanNya. Maka semalas apapun kita saat itu insyaAllah akan selalu diberi kekuatan untuk mengontrolnya. Karena cinta Allah saat menyapa kita selalu ada dalam setiap helaan nafas dan langkah kita. Wallahu’alambishowab.

Jadikan cintaku padaMu ya Allah

Berhenti di titik ketaatan

Meloncati rasa suka dan tidak suka

Karena aku tahu,

MentaatiMu dalam hal yang tak kusukai

Adalah kepayahan, perjuangan dan gelimang pahala

Karena seringkali ketidaksukaanku

Hanyalah bagian dari ketidaktahuanku

– Salim A. Fillah –

(MR)

 

About UKHTI STIS

Salah satu divisi ROHIS, Sekolah Tinggi Ilmu Statistik

Posted on 9 October 2010, in Edisi VI 2010 and tagged . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. Peketo Singoedansari Blog

    🙂

  2. waalaikumsalam wr.wb indah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: